Bibir kami terkatup rapat ketika melihat bocah kecil itu berdiri sedikit mengendap di teras rumah itu. Seolah takut, seolah bingung melihat kami. Kulitnya agak gelap, dan kepalanya berhias kopiah hitam yg mulai kusam. Dia berdiri dengan punggung menempel tembok, dengan mata yg tengah memperhatikan gerak gerik kami.
Aku berjalan kearahnya, menghampirinya, sementara teman2 yg lain memilih utk melangkah ke halaman rumah tersebut.
Ternyata umurnya baru sekitar 8 tahunan, dan dia tidak tahu tepat dimana lokasi rumahnya, yang dia ingat hanya dia berasal dari kota Semarang. Aku hanya terdiam, menatap sedih anak itu.
Hari itu adalah hari2 akhir bulan ramadhan, ketika aku dan tmen2 dekat ingin berbagi kebahagiaan dengan anak2 yatim piatu di sebuah panti asuhan di daerah Pati. Selepas maghrib, kami memulai perjalanan kesana. Panti asuhan itu terletak cukup jauh dr kota Pati. Kami harus berkali melewati jalan yg membelah hamparan persawahan tanpa penerangan sama sekali. Hanya dengan bertanya sekali pada seorang penduduk, akhirnya kami bisa sampai ke panti asuhan tersebut.
"Silahkan masuk" kata seorang ibu berjilbab dari dalam rumah.
"Terimakasih, assalamu ‘alaikum" jawab kami sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa ‘alaikum salam.." sambut ibu itu.
Beliau mempersilahkan kami duduk lesehan di karpet yg sudah tertata diruang tamu nya. Meski sederhana, tp ruang tamu itu terlihat cukup bersih. Di dindingnya tertempel bbrp foto keluarga. Dan diujung jauh sana terlihat bbrp piala berjejer di almari kaca, mungkin itu hasil prestasi anak2 asuhnya.
"Sebagian besar anak2 sudah pada pulang mas.." kata ibu itu memecah keheningan.
"Mereka sudah libur sekolah, jadi sebagian dari mereka ingin merayakan lebaran dirumah masing2.."
"Hanya tersisa 12 anak disini, tp sekarang ini sebagian mereka masih di masjid bersama bapak utk khataman Al-Quran.." lanjut beliau.
Saat itu memang sudah menjelang Isya’ ketika kami sampai disana, jadi memang bukan waktu yang tepat jika kami ingin bertemu dengan anak2 asuh itu. Tapi bukan itu maksud kami sebenernya. Kami hanya ingin sedikit berbagi rezeki dan kebahagian kepada mereka lewat bahan makanan dan hal2 kecil yg mereka sukai.
"Iya bu.." kata mas Bowo mewakili kami.
"Kami disini bersama teman2 hanya ingin berbagi bersama adek2 disini dan ingin menyampaikan bbrp bahan makanan yang InsyaAllah bisa bermanfaat utk adek2 semua. Semoga ibu berkenan menerimanya.." lanjut mas Bowo.
Ibu itu terlihat senang. Senyumnya mengembang.
"Terimakasih mas dan mbak, semoga amal kebaikan kalian dapat diganti dengan yg lebih baik oleh Allah SWT, amin.." jawab ibu itu dengan bahagia.
Tak lama kemudian, dari dalam ruang tengah muncul seorang anak lagi yg membawakan air mineral gelas dan bbrp kue dalam toples. Dia dengan tangkas menyajikan utk kami.
"Silahkan di cicipi mas kue2 nya" kata ibu itu sambil membuka satu persatu toples yg berisi kue2.
Kami pun tersenyum, dan mulai mencicipi bbrp kue yg tersedia.
Rumah ini sebenernya bukan seperti panti asuhan yatim piatu biasa, tp lebih mirip pondok pesantren, karena sebagian dari anak2 asuh yang ada masih memiliki tempat tinggal bersama keluarganya, hanya beberapa dari mereka yang tidak tau dimana keluarganya. Disini mereka dididik untuk mandiri dan berketrampilan. Jadwal mereka pun cukup ketat utk belajar dan mengaji. Jam 2.30 dini hari mereka sudah diharuskan bangun utk menjalankan sholat tahajjud dan kemudian tadarus sampai shubuh, lalu dilanjutkan dengan belajar.
"Loh bu, anak kecil yang ada di depan rumah itu siapa yah?" tanyaku kepada ibu itu.
"Oh itu.." desah ibu itu dengan sedikit tersenyum.
"Dia berasal dari Semarang, bbrp waktu yll ada saudaranya yang menitipkan dia disini, katanya orangtuanya meninggal ketika bekerja sebagai buruh di pelabuhan. Lalu karena tidak ada yang mengurusi dia, maka dia dititipkan disini oleh saudaranya.." jawab ibu. "Sekarang dia tidak bisa balik ke Semarang karena tidak tahu dimana rumahnya. Kamipun juga tidak tahu dimana lokasi rumah dia. Jadi mgkn dia akan berlebaran disini.." tambah ibu tadi.
Kami hanya terdiam ketika mendengar penjelasan ibu tadi.
"Mas dan mbak tau anak yg membawakan air putih dan kue ini tadi? Dia lebih kasihan.." lanjut ibu. Matanya menerawang ke langit2, seolah sedang membayangkan satu titik waktu.
"Pagi itu masih gelap ketika tiba2 datang tukang ojek dengan membawa anak kecil di jok belakangnya. Umur anak ini ketika itu kira2 baru 5 tahun.." ibu itu mulai bercerita.
"Menurut tukang ojek, anak itu turun dari bis bersama orang dewasa. Lalu orang itu meminta tolong kepada tukang ojek itu utk mengantarkan si anak ke panti asuhan. Kemudian orang itu pergi lagi menggunakan bis..".
"Saya tidak tega waktu pertama kali lihat anak itu.." lanjut ibu itu sedih. "Wajahnya kusam, dan dia hanya membawa satu kardus berisi pakaian2 dia. Sungguh tega orang tua yang membuang anaknya seperti ini.." imbuhnya.
Kami bner2 tambah terdiam mendengar cerita itu semua.
Memang benar, sepahit2 apapun alasannya, tp keterlaluan juga kalo membuang anak seperti itu tanpa memberi hak kepada anak itu utk tau siapa dan dimana orang tuanya. Umur2 seperti dia pasti sedang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
Usap tangan dari orang tua pasti akan dirasa berbeda dengan usap tangan dari orang lain.
Lebih hangat..
Lebih menenangkan..
dan lebih bermakna..
Sebelum memutuskan utk pamit, kami saling berdoa dalam hati agar anak2 asuh ini dapat memperoleh apa yg terbaik utk mereka.
Melihat kebawah ternyata akan selalu bisa membawa perubahan daripada selalu melihat keatas. Membuat kita semakin bisa mensyukuri apa yg telah ada disini.. Kasih sayang orang tua, kehidupan yg berkecukupan, dan apapun itu yang selama ini hanya kita anggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi. Bahwa kebahagian akan datang ketika kita mau berbagi setidaknya sedikit kebagiaan juga utk orang lain.
Semoga Allah membantu mereka2 yg sudah mengabdikan dirinya utk mengasuh anak2 itu, dan semoga anak2 itu diberi kekuatan dan kebahagiaan dlm menjalani hidup, meski dengan keadaan seperti sekarang ini. Amin..
(ramadhan - disebuah panti asuhan di daerah Pati.. mkasih : bowo, frida, mimin, junior, maz lilik, combo!)
-adjie-